Kata-Kata Mutiara

Doa adalah lagu hati yang membimbing ke arah singgahsana Tuhan meskipun ditingkah oleh suara ribuan orang yang sedang meratap; Kebijaksanaan tidak lagi merupakan kebijaksanaan apabila ia menjadi terlalu angkuh untuk menangis, terlalu serius untuk tertawa, dan terlalu egois untuk melihat yang lain kecuali dirinya sendiri; Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat-keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan; Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran; Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta; Nilai dari seseorang itu di tentukan dari keberaniannya memikul tanggungjawab, mencintai hidup dan pekerjaannya; Rumahmu tak akan menjadi sebuah sangkar, melainkan tiang utama sebuah kapal layer; Jauhkan aku dari manusia yang tidak mahu menyatakan kebenaran kecuali jika ia berniat menyakiti hati, dan dari manusia yang bersikap baik tapi berniat buruk, dan dari manusia yang mendapatkan penghargaan dengan jalan memperlihatkan kesalahan orang lain; Periksalah buku kenanganmu semalam, dan engkau akan tahu bahwa engkau masih berhutang kepada manusia dan kehidupan; Inspirasi akan selalu bernyanyi; kerana inspirasi tidak pernah menjelaskan; Sungguh terpuji orang yang malu bila menerima pujian, dan tetap diam bila tertimpa fitnah; Alangkah buruknya nilai kasih sayang yang meletakkan batu di satu sisi bangunan dan menghancurkan dinding di sisi lainnya.(Kahlil Gibran)

14 November 2009

TEORI MOTIVASI AL-RAJA' DAN KHAUF (Rasa Harap dan Takut)


oleh: Drs. Sahlan, SH. MH.
Motivasi (motivation) berarti dorongan, penyebab, daya bathin. Dorongan dari jiwa seseorang untuk berbuat dan tidak berbuat sesuatu. Dalam konteks Islam dapat diartikan dengan Niat. Niat dimaksudkan adalah penyegajaan ataupun dorongan bathin untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Niat juga bisa diartikan dengan motif, karena pengertian niat ada dua pengertian yaitu getaran batin untuk menentukan jenis sesuatu perbuatan, contohnya untuk sholat sholat subuh , tahiyatul masjid dan lain-lain. Niat yang kedua dalam arti tujuan adalah maksud dari sesuatu perbuatan. Menurut Asep Ridrid Karana kata niat jika disejajarkan lebih tinggi daripada motivasi karena motivasi seorang muslim harus timbul karena niat pada Allah.

Pada prakteknya kata motivasi dan niat hampir sama dengan motivasi, sama-sama dapat dipakai dengan arti yang sama, yaitu bisa kebutuhan (need), desakan (urge), keinginan (wish), dorongan (drive) atau kekuatan (strength). Walaupun dalam bahasa Inggris intention diartikan niat dan motivation dengan motivasi namun dalam berbagai penelitianpun kata motivasi yang digunakan.

Orang (manusia) akan melakukan ataupun tidak melakukan sesuatu, karena adanya dorongan ataupun niat karena untuk memperoleh sesuatu ataupun menghindari sesuatu. Dalam pandangan Islam tentang manusia Ada tiga kata kunci tentang manusia, yaitu basyar, insân, fitrah, dan nafs, (ruh). Konsep basyar seperti pada Surat Fussilat ayat:6: قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ... menunjukkan posisi manusia sebagai makhluk biologis yang memerlukan kebutuhan dasar (physiological needs). Sedangkan konsep insan seperti pada surat Al-Hujrat ayat 13: يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ(13)menunjukkan bahwa manusia adalah totalitas yang memiliki fisik dan psikis, badaniah dan ruhaniah, individualistik, khas, unik, berbeda antara manusia satu dengan yang laiinya. Sementara nafs dan ruh seperti pada surat Yusuf ayat 53: وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ (dan aku tidak akan membebeskan diriku …..) merupakan tentara hati manusia (junûd al-qalb). Hati manusia ini telah memiliki potensi yang disebut fitrah. Demikian penjelasan Al-Ghazâli.

Menurut Al-Ghazali sebuah perilaku terjadi karena peran dari Junud al-Qalb atau tentara hati. Qalbu adalah sebuah gumpalan darah yang dalam aliran sekarang digambarkan sebagai bentuk LOVE. Dalam sebuah Hadits riwayat Imam Bukhori disebutkan … أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ artinya: Perhatikanlah, bukankah dalam suatu tubuh manusia itu ada suatu gumpalan darah, apabila dia baik, maka keseluruhan tubuh itu akan menjadi baik, tetapi sebaliknya apabila diai tidak baik (rusak), maka keseluruhan tubuh itu juga akan menjadi rusak, itu Qalbu. Dalam diri manusia terdapat dua kelompok Junud al-Qalb, yaitu yang bersifat fisik berupa anggota tubuh yang berperan sebagia alat dan yang bersifat psikis. Yang bersifat psikis berwujud dalam dua hal yaitu syhawat dan ghadlab yang berfungsi sebagai pendorong (iradah). Syahwat mendorong untuk melakukan sesuatu (motif mendekat) dan ghadlab mendorong untuk menghindar dari sesuatu (motif menjauh). Adapun tujuan dari perilaku tersebut adalah untuk sampai kepada Allah. Tetapi dalam praktiknya perilaku ini terbagi ke dalam hirarki motivasi Ammarah (hedonistik), motivasi Lawwamah (skeptik), dan motivasi Muthmainnah (spiritualistic).

Adanya dorongan dalam diri manusia menimbulkan suatu tindakan yang disebut dengan amal ataupun aktivitas. Amal dalam Islam merupakan aktivitas terpenting bagi seorang muslim dalam kehidupan di dunia. Karena itu konsep ini dipadankan dengan iman, dijelaskan ratusan kali dalam Al-Quran. Amal dalam Islam dalam berbagai bentuknya mempunyai tujuan ganda, yakni merealisasikan keuntungan di dunia dan akhirat. Dalam perspektif Islam, aktivitas perekonomian harus disertai komitmen untuk mematuhi petunjuk Tuhan yang digariskan Al-Quran dan dijabarkan melalui as sunnah. Islam telah menetapkan pekerjaan bagi seorang muslim sebagai hak sekaligus kewajiban. Islam menganjurkan bekerja dan memerintahkan agar pekerjaan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang bercerita tentang penting dan urgennya bekerja tersebut. Seperti Firman Allah pada surat Al-An’am ayat 135:قُلْ يَاقَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ , surat At-taubah ayat 105: وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ Prinsip pertama yang ditegakkan Islam dalam mengatur masyarakat ialah agar setiap orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri dan orang-orang yang menjadi tanggungannya, karena dalam pandangan Islam bahwa siapa saja yang berusaha pada dasarnya hasil ataupun akibat perbuatannya itu adalah untuk dirinya sendiri. Perhatikan firman Allah pada surat Al-Isra’ ayat 7: اِِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ...

Konsep motivasi spiritual menurut Umar Chapra sejiwa dengan apa yang dikemukakan Max Weber bahwa dunia Barat berkembang tidak didorong oleh nilai konsumtif melainkan oleh motivasi dari nilai kreatif yang disebut etos karya. Karena Max Weber seorang protestan, maka etos karya itu disebut etos Protestan, itulah etos agama. Umat Kristen juga mempunyai pandangan bahwa pembangunan perlu memiliki apa yang disebut dengan transcendent persfektive; artinya faktor tindakan Allah (dibaca Alah) dalam pembangunan atau sejarah manusia. Ajaran agama Hindu sendiri juga memiliki banyak aspek teologis pembangunan diantaranya Tri Hita Karana yang berarti tiga hal (Karana) yang akan membuat bahagia (Hita). Tiga hal (unsur) tersebut adalah Prajapati (Tuhan yang mahaesa), Praja (Manusia), dan alam lingkungan manusia. Konsep ini pula dijadikan disertasi oleh Anak Agung Gde Agung (Mantan Menteri Negara Masalah-Masalah Kemasyarakatan pada Kabinet Gus Dur) yang dipahat namanya disejajarkan dengan sembilan tokoh lainnya seperti Nelson Mandela atau Albert Einstein. Al-Quran sendiri menegaskan adanya pengamalan hidup manusia dan kemuliaan bekerja. Masih banyak ayat Quran yang memotivasi manusia untuk menekuni pekerjaan sehingga hidupnya menjadi tenang dan aman, maka dari itu pula manusia mampu bersikap positif, serius, tekun dalam bekerja serta merasa yakin terhadap janji Sang pemberi Rezeki.

Menyandarkan rejeki kepada Allah SWT bukanlah ajakan untuk bersikap fatalis dan berpangku tangan, melainkan merupakan ajakan untuk bekerja. Berpangku tangan bertentangan dengan hukum dan peraturan hidup manusia, serta bertentangan dengan misi yang diemban manusia. Islam mengajak individu untuk mendayagunakan potensi yang dianugerahkan Allh SWT kepadanya untuk bekerja dalam batas-batas kemampuan,tanpa menunggu pemerintah mengurus seluruh keperluannya.

Suatu tesis baru tentang teori motivasi Islam adalah teori motivasi yang dikemukakan Al Ghazali. Karya keilmuan Al Ghazali dapat dikonstruksikan sebagai sebuah proses teorisasi ilmu yang memiliki karakter ilmiah, bukan sebagai wacana agama, etika dan tasawuf belaka, karena karya-karya Al Ghazali bisa diinterpretasikan dan diaktualkan untuk kepentingan yang lebih luas. Hal demikian termasuk dalam kepentingan manajemen, khususnya ketika memahami teori motivasi dalam manajemen smber daya manusia. Al-Gazali atau Imam Gazali adalah bernama Abu Hamid Al Ghazali (1085-1111 M) adalah salah seorang ilmuwan muslim yang termasyhur sebagai tokoh muslim dari kelompok Ahlu Sunnah, yang juga dikenal sebagai Hujjatul Islam. Salah satu karya utamanya adalah Ihya ‘Ulumuddin. Imam Al Ghazali memandang proses pemotivasian seseorang sehingga mampu meningkatkan prestasi kerjanya. Perspektif Al Ghazali dalam motivasi didasarkan pada bukunya Ihya Ulumuddin, khususnya dalam rubu (bagian) khauf wa raja’ (takut dan harap).

Jika diperhatikan sistematika penulisannya rubu ini terbagi kedalam dua bagian, yaitu raja’ (harap) yang terdiri atas 3 bab dan khauf (takut) sebanyak 9 bab. Hal ini mengisyaratkan bahwa Al Ghazali memandang rasa takut memiliki wacana yang lebih penting dari rasa harap, rasa takut merupakan konsep dengan gradasi dari negatif sampai positif, kendatipun demikian pembahasan keduanya tidak jauh berbeda.
Harap dan takut ini merupakan dua sayap, yang merupakan sarana pendakian orang-orang yang berupaya mendekatkan diri kepada Allah menuju setiap peringkat yang terpuji. Juga, merupakan dua pisau, yang dengan keduanya, orang membedah titian jalan akhirat memotong setiap tebing yang sulit didaki. Harap-takut ini bagi Al Ghazali memiliki dua manfaat yaitu (1) sebagai daya dorong untuk melakukan perjalanan dan perkembangan mental spiritual sehingga memiliki prestasi yang terpuji, (2) menjadi kontrol atau pisau kritis terhadap perjalanan spiritual atau mental. Implikasinya, yang mendorong kita untuk maju adalah adanya rasa harap untuk membuat kita lebih giat beramal kebajikan dan rasa khauf yang membuat kita untuk tidak melakukan perbuatan yang tidak produktif. Di sinilah tampak urgensi peran khauf dan raja’ sebagai motif dasar dalam menggerakkan prilaku manusia di muka bumi.

Di dalam Al-qur’an banyak firman Allah yang menjanjikan raja’ (harapan) bila orang berbuat baik akan diberi syurga dan lain-lain. Seperti firman Allah pada surat Assajadah ayat 19: أَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ جَنَّاتُ الْمَأْوَى نُزُلًا بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ , Surat At-Thin ayat 6: ِإ لَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ, demikian pula tentang perasaan khauf (takut) seperti firman Allah pada surat Al-Isra’ ayat 10: َوأَنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا , An-Nisa’ ayat 138 ِبشرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا . Rasulullah bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Anas: “Keduanya (takut dosa dan rahmat Allah) itu tidaklah berkumpul pada hati hamba pada tempat ini, melainkan ia diberikan oleh Allah apa yang diharapkannya dan ia diamankan oleh Allah dari apa yang ditakutinya”.

Takut, dalam Islam juga diposisikan sebagai ujian, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam Al Quran, “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS. 2:155). وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ Menurut Sayyid Quthb, ayat tersebut menjelaskan tentang adanya keniscayaan untuk menempa jiwa dengan bencana dan ujian. Adanya rasa takut, merupakan ‘training’ mental dan jiwa manusia. Oleh karena itu mereka yang memiliki positive thinking yang akan berhasil melewati rasa takut dan mampu meningkatkan kualitas hidupnya.

Nilai keutamaan antara khauf dan raja’ ini terletak dalam relevansinya dengan penyakit yang dimilikinya. Landasan teologisnya, terlihat dari pernyataan dalam Al Quran yang memposisikan keduanya secara bergantian. Dalam Surat As Sajdah, rasa takut di dahulukan dari rasa harap, “… mereka berdoa kepada Tuhannya dengan perasaan penuh ketakutan dan pengharapan…”(QS.Sajdah:16). تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُم خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (arti:Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya) Sedangkan dalam Surat Al Anbiya’, rasa harap diposisikan lebih dahulu dibandingkan rasa takut, “…dan, mereka berdoa kepada Kami dengan pengaharapan dan rasa takut…”(QS. Al Anbiya’:90). فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ. Rasa takut dan harap dapat menjadi obat bagi penyakit mental manusia, setelah sebelumnya telah melakukan diagnosiis psikologis. Ada dua cara menumbuhkan harap dan takut sebagai obat. Pertama, dengan menggunakan i’tibar atau pemerhatian terhadap kasus yang ada, dimana fakta sosial atau data empiris menyajikan beberapa nasihat faktual bagi individu yang mengalami penyakit mental. Kedua, dengan merujuk petuah-petuah normatif yang diyakininya dari Al Quran dan Hadist. “Sesungguhnya, orang-orang yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, ialah orang-orang yang berilmu” (QS. Al A’rraf:154). Ayat tersebut menanamkan mental keimanan bahwa orang yang takut kepada Allah adalah orang yang memiliki ilmu. Sambil menanamkan rasa takut pada siksa Allah, manusia harus memperdalam ilmunya, sehingga menimbulkan mental berprestasi.”Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah. Itu adalah bagi orang yang takut keapda Tuhannya” (QS Al Bayyinah:8). جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ (البينة: 8)
Ayat tersebut menanamkan mental keimanan bahwa orang takut kepada Allah adalah orang yang memiliki mental keagamaan yakni ridho diatur oleh Allah, dan akibat dari sikap ini, Allah pun ridho kepadanya.

Read More...

Mengenai Saya

Foto saya
West Jakarta, DKI, Indonesia
I am Sahlan Hasibuan, right now living at Jakarta City,

About This Blog

Halo para pengunjung, blog ini berisi informasi yang berhubungan dengan my privat, tapi bisa aja diakses setiap orang, sebab isinya gak ada tu yang bertentangan dan bersifat tabu maupun sara. Kalau ada yang mau ngasi komentar, silahkan saja selama bermaksud konstruktif. Thank ya.
Free Download Song for Gaza “We will not go Down” by Michael Heart mp3 version and We will not go down Lyrics

Lagu ini di buat oleh Michael Heart, saya menaruh apresiasi yang tinggi kepada beliau yang masih mau berbuat meskipun hanya berbentuk lirik, tapi lagu ini cukup menggugah hati dan jiwa juang saudara-saudara kita yang punya keperdulian terhadap saudara kita di Gaza-Palestina.

Free download Song for Gaza ” We will not go Down” Lagu ini dapat di download secara gratis di websitenya Michael Heart sendiri di sini

For Free Download Click Here

For Video Version of Song for Gaza ” We Will not Go Down and its lyrics, See HERE

If You care with the palestine, donate them here

  © Blogger template The Business Templates by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP