Kata-Kata Mutiara

Doa adalah lagu hati yang membimbing ke arah singgahsana Tuhan meskipun ditingkah oleh suara ribuan orang yang sedang meratap; Kebijaksanaan tidak lagi merupakan kebijaksanaan apabila ia menjadi terlalu angkuh untuk menangis, terlalu serius untuk tertawa, dan terlalu egois untuk melihat yang lain kecuali dirinya sendiri; Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat-keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan; Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran; Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta; Nilai dari seseorang itu di tentukan dari keberaniannya memikul tanggungjawab, mencintai hidup dan pekerjaannya; Rumahmu tak akan menjadi sebuah sangkar, melainkan tiang utama sebuah kapal layer; Jauhkan aku dari manusia yang tidak mahu menyatakan kebenaran kecuali jika ia berniat menyakiti hati, dan dari manusia yang bersikap baik tapi berniat buruk, dan dari manusia yang mendapatkan penghargaan dengan jalan memperlihatkan kesalahan orang lain; Periksalah buku kenanganmu semalam, dan engkau akan tahu bahwa engkau masih berhutang kepada manusia dan kehidupan; Inspirasi akan selalu bernyanyi; kerana inspirasi tidak pernah menjelaskan; Sungguh terpuji orang yang malu bila menerima pujian, dan tetap diam bila tertimpa fitnah; Alangkah buruknya nilai kasih sayang yang meletakkan batu di satu sisi bangunan dan menghancurkan dinding di sisi lainnya.(Kahlil Gibran)

12 Oktober 2009

DALIHAN NA TOLU DALAM SISTIM MASYARAKAT ADAT YANG BERMARGA (BATAK)

Dalihan Natolu sebagai system kekerabatan bagi orang bermarga (keturunan batak) ternyata mempunyai nilai yang tidak kalah dengan system lain yang sangat populer saat ini, yaitu Demokrasi. “Dalihan Natolu” ini melambangkan sikap hidup orang bermarga dalam bermasyarakat. Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (bahasa Batak Toba) atau TOLU SAHUNDULAN (bahasa Simalungun). Dalihan dapat diterjemahkan sebagai “tungku” dan “sahundulan” sebagai “posisi duduk”. Keduanya mengandung arti yang sama, ‘3 POSISI PENTING’ dalam kekerabatan orang Batak.

Dalihan Na Tolu juga dapat diartikan sebagai tungku yang berkaki tiga, saling menyokong. Tanpa ada yang harus ditinggikan meskipun dalam acara-acara adat harus ada yang didahulukan.

Di lima sub-etnis Batak; Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, Mandailing/ Angkola,. Dalihan Na Tolu memiliki persamaan. Toba; Hulahula, Dongan Tubu (Sabutuha), Boru. Sedangkan Simalungun menyebutnya Tolu Sahundulan; yang berarti Tondong (Toba=Hula-hula), Sanina (Dongan Sabutuha), Boru (boru). Sementara di Karo menyebut, Daliken Sitelu atau Rakut Sitelu. Istilah Daliken Sitelu berarti tungku yang tiga. Daliken berarti batu tungku, sementara Si samadengan Telu tiga. Menunjuk pada esensi kehidupan sehari-hari. Yang juga mengambarkan ada ikatan setiap individu Karo tidak lepas dari tiga kekerabatan tersebut. Unsur Daliken Sitelu ini adalah; Kalimbubu (Toba;Hula-hula), Sembuyak atau Senina (Dongan sabutuha), Anak Beru (Boru).

Sama juga halnya di Mandailing/Angkola sistim kekerabatan itu menunjukkan arti tumpuan, menunjuk pada hakekatnya yang didukung oleh kata dalian. Dalian berarti tumpuan mendasar pada budaya. Tumpuan Yang Tiga bagi kelangsungan hidup masyarakat Mandailing/Angkola. Mereka menyebut Mora (Toba; Hula-hula), Anakboru (boru), Hahanggi (Sabutuha).
Untuk lebih detailnya, berikut dikemukakan satu persatu istilah dimaksud:
1. Kelompok HULA HULA atau TONDONG, yaitu kelompok keluarga marga pihak istri. Kepada keluarga mereka disebut SOMBA SOMBA MARHULA HULA yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri. “Hula-Hula” adalah Orang tua dari wanita yang dinikahi oleh seorang pria, namun hula-hula ini dapat diartikan secara luas. Semua saudara dari pihak wanita yang dinikahi oleh seorang pria dapat disebut hula-hula. Marsomba tu hula-hula artinya seorang pria harus menghormati keluarga pihak istrinya. Dasar utama dari filosofi ini adalah bahwa dari fihak marga istri lah seseorang memperoleh “berkat” yang sangat didominasi oleh peran seorang istri dalam keluarga. Berkat hagabeon berupa garis keturunan, hamoraon karena kemampuan dan kemauan istri dalam mengelola keuangan bahkan tidak jarang lebih ulet dari suaminya, dan dalam hasangapon pun peran itu tidak kurang pentingnya. Somba marhulal-hula supaya dapat berkat.
2. DONGAN TUBU atau SANINA, atau DONGAN SABUTUHA, yaitu kelompok orang-orang yang posisinya “sejajar”, yaitu: saudara ataupun teman semarga. Prinsip Hubungannya adalah MANAT MARDONGAN TUBU, artinya HATI-HATI menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.
3. BORU, yaitu kelompok orang orang yang mengawini putri-putri dari seseorang tersebut atau saudara perempuan dan pihak marga dari suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Boru adalah anak perempuan dari suatu marga, misalnya boru hasibuan adalah anak perempuan dari marga Hasibuan tersebut. Prinsip hubungan nya adalah ELEK MARBORU artinya harus dapat merangkul boru/sabar dan tanggap. Dalam kesehariannya, Boru bertugas untuk mendukung/membantu bahkan merupakan tangan kanan dari Hula-hula dalam melakukan suatu kegiatan. Sangat diingat oleh filosofi ELEK MARBORU, bahwa kedudukan “di bawah” tidak merupakan garis komando, tetapi harus dengan merangkul mengambil hati dari Boru – nya. Dari ketiga kategori itu, biasa dibahasakan dengan istilah “somba marhulahula, manat mardongan tubu dan elek marboru”, yang bermakna masing-masing saling menghormati: pihak hulahula (keluarga isteri), mawas terhadap saudara kandung dan semarga serta sayang terhadap anak perempuan dan keluarga suaminya, harus dapat membujuk rayu, melindungi dan, mengayomi (boru) putri.

Ketiga dalihan tersebut, menjadi sistim sosial yang berupa filosofi, dan teraflikasi dalam upacara-upacara adat. Setiap unsur memiliki hak dan kewajiban yang berbeda, namun pada prinsipnya sama. Setiap orang bermarga menduduki ketiga status ini, pada saat tertentu dia bisa boru, hulahula, dan dongantubu. Jadi tidak selamanya posisi boru melekat. Paradoks tadi, ia bisa menjadi boru bisa menjadi hulahula—di adat borunya.
Dari sisi religi, Dalihan Na Tolu juga menggambarkan relasi manusia dengan sang pencipta. Yang disebut banua toru, banua tonga dan banua ginjang. DR. Philip. O.Tobing dalam bukunya The Structure of the Toba Batak Belief in the High God (1963) menyebutkan, Batara Guru, Bala (Mangala) Sori, dan Bala (Mangala) Bulan adalah representasi dari masing-masing hulahula, dongan-sabutuha dan boru.

Mengenai peristilah Dalihan Na Tolu atau Dalian Na Tolu, ada terdapat perbedaan prinsip menurut sebagain pendapat para penulis, seperti halnya yang dikemukakan oleh saudara Drs. Pengaduan Lubis (dalam websitnya di: http://www.mandailing.org/ind/rencana16.html, bandingkan juga dengan tulisan pada websit: http://hasibuan.webs.com/daliannatolu.htm,)beliau mengemukan perbandingan pada peristilahan masyarakat Mandailing. Menurut beliau perbedaan tersebut sangat mendasar kedudukannya dalam kehidupan dan kebudayaan dalam bermasyarkat. Dalam membicarakan sistem sosial Dalihan Na Tolu dalam konteks Mandailing, istilah Dalihan Na Tolu sengaja diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Tumpuan Yang Tiga. Terjemahan menjadi Tiga Tungku Sejerangan yang sudah lumrah dianggap sebagai terjemahan yang ideal dan tepat untuk istilah Dalihan Na Tolu (sebagai suatu sistem sosial) sengaja dihindari.
Diterjemahkan istilah Dalihan Na Tolu menjadi Tumpuan Yang Tiga, dan bukan Tungku Tiga Sejerangan ialah, karena dengan terjemahan yang demikian itu diharapkan dapat diungkapkan dengan tepat dan ideal makna dan nilai filosofis yang diberikan oleh masyarakat Mandailing kepada Dalihan Na Tolu sebagai sistem sosialnya yang mendasar secara konseptual. Dalam hubungan ini dapat dijelaskan bahwa arti yang terkandung pada perkataan dalian dalam bahasa Mandailing bukan hanya satu saja dan khusus menunjukkan terjemahan maupun perlambang bagi istilah maupun sistem Dalihan Na Tolu dalam konteks Toba. Dalam bahasa Mandailing perkataan tersebut mengandung konsep dan konotasi filosofis yang menunjukkan arti tumpuan. Dan konotasinya yang menunjuk pada tumpuan inilah pada hakekatnya yang didukung oleh perkataan dalian dalam kelompok kata Dalian Na Tolu yang dipakai untuk menyebut sesuatu sistem sosial yang terdapat dalam masyarakat Mandailing, dan perkataan tersebut bukan mendukung arti denotatif tungku.

Penggunaan kata dalian dengan arti tumpuan mendasar dan membudaya dalam hidup orang Mandailing. Hal ini dapat dilihat melalui kenyataan yang ada sampai sekarang, bahwa orang Mandailing mempunyai tradisi untuk menamai anaknya yang laki-laki dengan nama Si Dalian, yang kemudian biasanya dipersingkatkan menjadi Si Lian. Dalam hal ini nama tersebut (dalian) secara konseptual mengandung makna tumpuan, dan bukan tungku. Dan menurut tradisi budaya Mandailing nama tersebut diberikan kepada anak laki-laki sebagai gorar lomo-lomo, artinya gelar yang mengandung sanjungan dan harapan. Melalui pemberian nama atau gelar yang demikian itu, orang Mandailing mengungkapkan pandangan filosofisnya terhadap status dan peranan yang diharapkan untuk didukung oleh anak laki-lakinya. Hal ini konsisten dengan sikap hidup orang Mandailing sebagai penganut garis keturunan patrilineal yang menempatkan anaknya yang laki-laki sebagai tumpuan (=dalian) harapan untuk meneruskan keturunannya dikemudian hari. Dengan perkataan lain, secara filosofis orang Mandailing memandang atau memberi nilai budaya terhadap anaknya yang laki-laki (Si Dalian) sebagai tumpuan bagi kelestarian eksistensinya. Paralel dengan ini, Dalian Na Tolu adalah sistem sosialnya yang merupakan Tumpuan Yang Tiga bagi kelangsungan hidup masyarakat Mandailing dalam bereksistensi.

Terlepas dari perbedaan pemahaman yang disampaikan oleh beberapa penulis sebagaimana diuraikan di atas, akan tetapi yang jelas menurut penulis bahwa peritilah Dalihan (dalian) Na Tolu tersebut dimaksudkan adalah bahwa dalam sistim pranata social masyarakat yang bermarga, ketiga komponen tersebut merupakan hal yang terpenting, sebab ketiga kelompok keluarga inilah yang dapat menyatukan dan melakukan suatu pekerjaan, hajatan bahkan rencana besar yang akan diaktualisasikan. Bila ketiga unsure tersebut sudah bersatu, tentu tidak ada lagi hambatan untuk melakukan sesuatu hal yang besar sekalipun. Dalihan Na Tolu ini menjadi pedoman hidup bagi orang yang bermarga teruma dari keturunan Batak dalam kehidupan bermasyarakat. Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut; sebagiaman diuraikan di atas, ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi BORU. Dengan Dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status sosial seseorang. Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur misalnya, harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat. Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal.

Read More...

Mengenai Saya

Foto saya
West Jakarta, DKI, Indonesia
I am Sahlan Hasibuan, right now living at Jakarta City,

About This Blog

Halo para pengunjung, blog ini berisi informasi yang berhubungan dengan my privat, tapi bisa aja diakses setiap orang, sebab isinya gak ada tu yang bertentangan dan bersifat tabu maupun sara. Kalau ada yang mau ngasi komentar, silahkan saja selama bermaksud konstruktif. Thank ya.
Free Download Song for Gaza “We will not go Down” by Michael Heart mp3 version and We will not go down Lyrics

Lagu ini di buat oleh Michael Heart, saya menaruh apresiasi yang tinggi kepada beliau yang masih mau berbuat meskipun hanya berbentuk lirik, tapi lagu ini cukup menggugah hati dan jiwa juang saudara-saudara kita yang punya keperdulian terhadap saudara kita di Gaza-Palestina.

Free download Song for Gaza ” We will not go Down” Lagu ini dapat di download secara gratis di websitenya Michael Heart sendiri di sini

For Free Download Click Here

For Video Version of Song for Gaza ” We Will not Go Down and its lyrics, See HERE

If You care with the palestine, donate them here

  © Blogger template The Business Templates by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP